Oleh : Sulaeman Rahman Nidar*)
Investasi merupakan salah satu kegiatan masyarakat modern sebagai upaya untuk mempertahankan hidup, sebagai konsekuensi manusia untuk meneruskan keturunan dan kehidupan dimasa depan. Walaupun demikian kegiatan investasi juga sudah lama dilakukan oleh masyarakat sebelumnya, seperti sejak zaman Nabi Yusup, yang berusaha menyimpan gandum sebagai upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai dari yang disimpanya. Betapa kegiatan investasi tidak terlepas dari konsumsi sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Jika konsumsi yang dilakukan masyarakat melebihi dari pendapatan , maka hal ini menjadi masalah dimasa depan, karena masyarakat bisa saja tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, disaat masyarakat tidak mampu menghasilkan pendapatan yang seharusnya.
Reksadana sudah menjadi pilihan masyarakat saat ini sebagai pilihan investasi untuk kesejahteraan dimasa yang akan datang. Sebagai instrument investasi dengan portfolio aset yang beragam, seperti saham, obligasi, deposito, serta underlying aset lainya, maka reksadana di Indonesia saat ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat tinggi. Khususnya untuk reksadana berbasis pada saham, sejak awal tahun 2013 perkembangan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) BEI menunjukkan pertumbuhan yang sangat menakjubkan.
Pada 28 Maret 2013 , untuk kesekian kalinya IHSG menciptakan rekor dan menyentuh level 4.940,99 atau setara adanya kenaikan sebesar 14,46%. Di prediksi bahwa selama tahun 2013 tingkat pertumbuhan IHSG diperkirakan sekitar 13 – 14 %. Demikian pula dengan reksadana diperkirakan akan tumbuh berkisar antara 11,5 – 14,8 % . Bila dibandingkan dengan instrument lain dalam investasi misalnya deposito atau obligasi , maka return yang disebutkan diatas dengan dibandingkan risiko , maka reksadana menjadi pilihan tepat tentunya.
Kondisi pasar modal yang baik dengan pertumbuhan yang cukup tinggi telah memunculkan kreativitas manajer investasi menciptakan produk baru reksadana khususnya reksadana saham. Seperti PT. Manulife Aset Manajemen Indonesia , bulan Maret 2013 merilis reksadana bertajuk Manulife Saham SMC Plus. Manulife akan menempatkan dana reksadana saham ini pada saham pilihan berkapitalisasi kecil dan menengah. Manulife berharap produk ini mengumpulkan dana kelolaan hingga Rp 1 miliar pada akhir tahun nanti.
Selain Manulife juga PT Lautan Dhana Investment Management dan PT. Samuel Asset Management menerbitkan reksadana baru berbasis saham – saham pada indeks syariah atau disebut dengan reksadana syariah. Demikian pula dengan PT. CIMB Principle Asset Management , menerbitkan reksadana berbasis pada saham infastruktur dan konsumsi.
Banyaknya manajer investasi yang menerbitkan reksadana berarti memberikan peluang kepada para investor untuk memilih reksadana yang memberikan return yang maksimal pada risiko tertentu. Strategi yang bisa jadi pedoman saat ini adalah memilih reksadana yang underlying asetnya bertumpu pada saham-saham yang terkait domestic demand, dengan alasan saham-saham ini cenderung focus pada investasi jangka panjang dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang digerakkan oleh permintaan dalam negeri, selain itu juga banyak emiten yang lebih focus pada pasar domestic, dimana didukung pula oleh kebijakan pemerintah yang masih menerapkan kebijakan bunga rendah, yang mendukung penguatan permintaan domestic. Sehingga wajar bila saham-saham yang terkait dengan domestic demand menjadi pilihan para manajer investasi sebagai keranjang underlying aset reksadananya.
Saham-saham yang termasuk kelompok domestic demand adalah saham sector konstruksi property, saham semen, saham otomotif dan saham sector perbankan. Kelompok saham yang disebutkan merupakan saham yang memberikan profit terhadap situasi perekonomian Indonesia saat ini. Jadi memilih saham-saham yang berorientasi pada pasar domestic menjadi pilihan yang bagus saat ini untuk membentuk reksadana baru dan memberi penawaran yang menarik bagi para investor untuk memilih reksadana yang berorientasi pada saham-saham yang berorintasi pada pasar domestic.
Sepertinya demikian mudah mencari tingkat return pada reksadana saham, sehingga banyak manajer investasi berusaha membuat produk reksadana untuk dilempar dipasar. Pada tahun 2013 akan banyak bermunculan produk reksadana saham. Banyak pilihan bagi para investor untuk beralih ke instrument investasi dari perbankan kepada instrument lainya. Perpindahan alokasi merupakan hal wajar sebagai prinsip bahwa investor adalah risk averse (Gitman, 2012).
Seiring dengan tingkat return yang diprediksi menarik atau tinggi , jangan pula ditinggalkan untuk mewaspadai tingkat risiko yang dihadapi oleh reksadana saham. Kenaikan harga bahan baku dapat menggerus margin laba emiten (Praska, 2013). Ini bisa menaikkan risiko yang dihadapi oleh pemegang reksadana saham. Seperti pada bulan maret 2013, dimana harga komiditi pertanian, bawang merah dan bawang putih yang harganya melambung tinggi, akan menggerek kenaikan inflasi, dan bisa menyebabkan tingkat suku bunga naik disebabkan oleh naiknya inflasi. Dan ini berarti investor harus mempertimbangkan lagi untuk bisa menikmati lezatnya return dari reksadana saham.
Adanya analisis risiko dan tingkat return terhadap perlu reksadana saham perlu dilakukan oleh investor, walaupun beberapa ahli menyatakan bahwa reksadana merupakan instrument yang baik untuk investor pemula dalam kiprahnya untuk memahami kerja atau mekanisme pasar modal pada instrument investasi para investor. Para investor akan memahami pengaruh risiko makro yang mempengaruhi underlying asset yang menjadi dasar dari reksadana yang dipilihnya.
Bila di tahun 2013 banyak tumbuh reksadana saham, dan terdapat banyak para investor baru yang membeli reksadana saham, akan bisa memberikan kontribusi terhadap banyaknya investor yang akan menjadi investor pasar modal , yang saat ini jumlahnya masih sedikit atau masih rendah dibanding Negara tetangga Malaysia.
Survey yang dilakukan Manulife Investor Sentiment Index (MISI), mengatakan bahwa tingkat optimism investor untuk berinvestasi di Indonesia tertinggi , atau mencapai 54 pada rentang indeks antara -100 sampe 100. Angka indeks ini lebih tinggi dibanding Amerika dan Kanada. Hasil survey juga memberikan informasi bahwa investor Indonesia , merupakan investor konservatif, atau mereka lebih suka pada instrument investasi yang memiliki risiko yang rendah. Jadi wajar bila reksadana bisa jadi pilihan investor Indonesia, karena risiko reksadana adalah risiko yang terdiversifikasi dengan baik, sehingga risiko bisa dikurangi karena adanya pengurangan risiko yang tidak sistematis, akibat adanya usaha menyebar risiko.
Versi lainnya mengenai fakta bahwa reksadana diminati oleh investor Indonesia, adalah survey yang dilakukan oleh BNI, bahwa kelas menengah dua tahun lalu menempatkan portfolio di produk non bank yaitu reksadana dan bancassurance sebanyak 5%, saat ini menjadi 12%. Peningkatan yang signifikan, yang menyebabkan tahun 2013, banyak manajer investasi menerbitkan reksadana untuk menangkap peluang adanya fakta, bahwa banyak investor Indonesia yang sudah mulai memilih saham , walaupun masih dalam bentuk reksadana, sebagai instrument investasi.
*) Dosen Mata kuliah Manajemen Investasi dan Portfolio FEB – Unpad
No comments:
Post a Comment